Iklan

header ads

DAKWAH DI TERAS LOKALISASI


Ada sedikit kisah menarik saat penulis masih menempuh pendidikan S1 pada sekolat tinggi ilmu dakwah di indramayu. penulis tertarik dengan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh sekolompok mahasiswa dari salah satu program Studi. Ia memiliki sebuah lembaga individu yang dibberi nama Lembaga Rumah Belajar Langgeng.

Lembaga tersebut adalah lembaga yang bergerak di bidang sosial masyarakat yang khusus memberikan penyuluhan pendidikan pada anak-anak di sebuah lokalisasi, yang mana sebagian besar orang tuanya bekerja di lokalisasi. Lembaga tersebut di pimpin oleh Yudi Taryudi, salah satu mahasiswa semester II Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) STIDKI NU Indramayu. Menurutnya ini menganggap bahwa lokalisasi adalah merupakan ladang dakwah, sekaligus ladang pengabdian untuk memberdayakan anak-anak di sekitar lokalisasi tersebut.

salah satu lokalisasi yang mendapat perhatian serius dari Lembaga Rumah Belajar Langgeng adalah Lokalisasi CI yang berada di Kroya-Indramayu.

Ketua Lembaga Rumah Belajar Langgeng, Yudi Taryudi saat ditemui penulis di lokalisasi CI, Minggu (22/2/2019) menjelaskan,  di lokalisasi itu ada sesuatu yang harus diberdayakan supaya ketika orang-orang mendengar lokalisasi tidak tertuju pada prostitusi saja. "Banyak orang yang tidak mengetahui yang tinggal di lokalisasi itu tidak hanya ada pekerja seks, pemilik kafe dan pelanggan. Terkadang di lokalisasi juga terdapat anak@anak, entah itu anak pemilik kafe atau pemilik warung makanan atau juga anak-anak dari masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan lokalisasi.

Anak-anak yang berada di sekitar lokalisasi itulah yang pertama akan kami berdayakan," jelas pria gagah ini.

Yudi menambahkan,   anak-anak itu akan dengan mudah menirukan dari apa yang mereka lihat setiap harinya, lantas bagaimana dengan anak-anak yang berada di sekitar lokalisasi yang setiap hari melihat keadaan di sana tak hanya itu sebagian dari anak–anak di sana juga ada yang tidak mempunyai orang tua, sehingga pengawasan terhadap kegiatan mereka sehari-hari kurang  terpantau bahkan mayoritas dari mereka lemah dalam mengenal huruf hijaiyah. "Dari pandangan itulah  kenapa yang pertama kami lakukan pemberdayaan di lokalisasi adalah anak- anak. Karena harapan semua orang tua itu sangat sederhana mereka ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya. Kami melakukan pemberdayaan dengan pendidikan di luar sekolah, caranya sama seperti ketika kita mengajak anak–anak di tempat yang lain supaya ikut dalam kegiatan seperti menggambar, belajar mengaji, belajar beritung, games, bercerita, mengggali minat dan bakat mereka," tutur Yudi panjang lebar.

Salah satu mahasiswa yang tergabung dalam lembaga tersebut menambahkan, anak-anak diajarkan untuk berani tampil di depan, membaca serta hal-hal yang menarik dan penuh kretivitas bagi anak-anak dan karakter anak-anak disana juga sama seperti anak-anak yang lainnya ada yang nakal, mudah menangis,berani tampil di depan, pemalu, ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang kurang dalam menangkap pelajaran. "Tapi yang  menjadi tantangan adalah perjuangannya itu loh agar anak-anak di sana mengikuti kegiatan tersebut karena mereka sudah terbiasa dengan bermain," ungkap laki-laki yang akrab disapa Jay Arjuna.

melakukan pemberdayaan di lokalisasi,  butuh perjuangan keras, apalagi muncul berbagai prasangka yang tidak-tidak terhadap dirinya dan lembaganya. "Bisa dibayangkan dari mereka anak-anak  yang tidak pernah kenal sama sekali dengan kami, dari orang tua yang mencurigai kegiatan kami bahkan dari masyarakat sekitar lokalisasi sendiri yang mungkin merasa terganggu dengan kegiatan kami, tapi semua itu menjadi motivasi bagi kami agar kegiatan ini untuk tetap berjalan dan istiqomah karena kami berharap dari kegiatan kecil ini dikemudian hari bisa meminimalisir dampak negativ pada anak-anak," ungkap Pria yang memang telah menggeluti pemberdayaan tersebut selama dua tahun.

Sementara, salah seorang di Lokalisasi CI Kroya, Jaka (bukan nama sebenarny-red.) saat LSN menyambanginya, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Rumah Belajar Langgeng. "Saya ikut kegiatan kira-kira sudah 24 kali, saya sangat senang dan saya tidak takut lagi kalau suruh tampil," ujar Jaka dengan nada ceria.

Jaka adalah salah satu anak dari 25 orang anak yang didampingi oleh seluruh team lembaganya. Jaka termasuk anak yang lambat dalam belajar, pernah dua kali tidak naik kelas, setelah mengikuti kegiatan, Jaka sekarang berani tampil di depan dan selalu mencoba menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pendamping.

Langkah kedepan,  diharapkan mampu mengalihkan cara pandang mereka. "Smoga suatu saat nanti kami bisa meminimalisir dampak negatif pada anak-anak di sekitar lokalisasi atau juga bisa memutus mata rantai lokalisasi di kemudian hari, karena menurut pandangan kami penggusuran lokalisasi yang ada saat ini tidak menyelesaikan masalah tetapi justru menimbulkan masalah baru seperti prostitusi rumahan dan prostitusi online," pungkas Yudi.

Posting Komentar

0 Komentar