Iklan

header ads

Opini: Antara Hijrah dan Kepdulian Sosial


Peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Kota Madinah menjadi tonggak sejarah dimulainya peradaban baru ummat Islam, bhkan berdasarkan peristiwa hijrah tersebut ditetapkanlah sebagai awal tahun baru Islam atau tahun Hijriyah.

Hijrahnya Rasulullah SAW dilakukan bukan hanya sekedar untuk menjalankan perintah Allah, melainkan karena Rasul merasakan selama ini berdakwah di Mekkah mendapatkan hambatan dan rintangan yang luar biasa dari kaum kafir qurais. Pendek kata, Rasulullah merasa kurang nyaman dan tidak bisa mengembangkan Islam lebih luas lagi, sehingga beliau melakukan hijrah ke Kota Madinah.

Saat Rasulullah melakukan hijrah dan datang ke Madinah, beliau dan seluruh pengikutnya yang dikenal dengat sebutan kaum muhajirin, disambut sangat antusias oleh kaum muslimin Madinah yang dikenal dengan sebutan kaum anshor.

Sambutan kaum anshor terhadap kaum Muhajirin, bukan hanya penyambutan terhadap fisiknya semata, akan tetapi mereka memberikan dan menyediakan apa yang dibutuhkan oleh kaum muhajirin. Kaum anshor menyediakan tempat tinggal, makan dan berbagai fasilitas lainnya. Bahkan kaum anshor rela hanya tidur di atas pelepah daun kurma dan memberikan kesempatan kepada kaum muhajirin untuk tidur di tempat tidurnya yang nyaman. Itulah bentuk kepedulian kaum anshor terhadap kaum muhajirin, mereka lebih mementingkan orang lain dibandingkan dengan kepentingannya sendiri, mereka mengorbankan harta dan bendanya untuk kepentingan   orang lain, yakni kaum muhajirin.

Kisah kepedulian kaum anshor terhadap kaum muhajirin tersebut, memberikan gambaran kepada kita, bahwa peristiwa hijrah bukan hanya sebatas perpindahan fisik semata, melainkan juga memunculkan ajaran untuk mengedepankan kepedulian sosial diantara umat Islam. Maka untuk memperingati datangnya tahun baru Islam 1441 H ini, hendaknya kita sebagai umat Islam mampu memupuk kembali nilai-nilai kepedulian sosial kita, karena jelas-jelas kaum Anshor mencontohkan kepada kita bahwa kepedulian terhadap sesama menjadi tulang punggung kekuatan Islam.

Kini, di Era Milenial ini, dimana nilai-nilai sosial kian tergerus oleh kemajuan teknologi informasi, hendaknya kita menghidupkan kembali nilai-nilai kepedulian sosial kita, agar kita mampu memaknai hijrah yang seutuhnya.

Lalu, jika kita bertanya kepada diri kita sendiri, sudah sejauh mana kita berhijrah, hijrah bukan dalam pengertian perpindahan fisik semata. Melainkan hijrah dalam pengertian peningkatan kepedulian sosial kita kepada sesama.

  • Bagaimana perhatian dan kepedulian kita terhadap anak yatim?
  • Bagaimana kepedulian kita terhadap fakir miskin?
  • Bagaimana kepedulian kita terhadap persoalan keumatan, keagamaan dan kebangsaan?

Jawabannya tentu kembali kepada diri kita masing-masing. Semoga kita benar-benar telah mampu memaknai esensi hijrah yang sebenarnya.


Posting Komentar

0 Komentar