Desa Ujung Pondok Jaya
(Ujungpendokjaya) adalah sebuah desa, atau wilayah administratif tingkat IV
setingkat desa di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat
yang memiliki kode wilayah / kode kemendagri 32.12.07.2014 dan
kodepos 45271 dan memiliki luas luas wilayah 262,8750 Hektar.
Desa ujungpendok jaya adalah sebuah
desa pemekaran dari desa Leuwigede pada tahun 1982. Desa Ujungpendok Jaya Terletak
di sebuah daerah dataran rendah yang rawan akan banjir dengan suhu udara
mencapai 270C – 320C. Sedangkan masyarakatnya mayoritas
berprofesi sebagai petani, tak ayal Desa Ujungpendok Jaya disebut sebagai desa
Argo Bisnis.
B. Sejarah
Kesimpangsiuran sejarah desa menjadi
sesuatu hal yang sulit untuk dipecahkan, karena sebagian besar para pelaku
sejarah sudah wafat dan tidak mencatat secara rinci terkait sejarah awal berdirinya
Desa Ujungpendok Jaya. Namun kali ini penulis mencoba untuk menuangkan kisah
sejarah Desa ujungpendok Jaya yang tentunya masih banyak memerlukan referensi,
baik bukti sejarah, pelaku sejarah atau peninggalan-peninggalan lainnya berupa
benda, perkakas dan lain sebagainya.
Berawal dari tiga buah makam yang
terletak di TPU wilayah bagian utara desa ujungpendok jaya. Tiga buah makam
yang dianggap keramat oleh msyarakat Desa Ujungpendok Jaya yang di yakini
sebagai tokoh sesepuh desa. Makam tersebut kerap di adakan rutinan berjamaah
dan setiap bulannya, yakni di setiap malam jumat kliwon. Kegiatan tersebut
selalu dipenuhi para peziarah terutama masyarakat desa ujungpendok Jaya.Makam tersebut adalah makam Ki Buyut Sabil, Ki Buyut Gunan dan Nyi Buyut
Santana Ayu. Konon makam tersebut dipercaya sebagai awal babad alas pedukuhan yang
sekarang Desa ujungpendok Jaya.
1.Ki Buyut Sabil
Membaca dari hasil penelisikan secara spiritual, Ki
Buyut Sabil adalah tokoh yang paling dituakan pada zamannya dan merupakan sosok
pendiri pertama sebuah pedukuhan yang sekarang menjadi Desa Ujungpendok Jaya.
Beliau bernama Asli “Ki Ibnu Sabil bin Raden Muhammad Yusuf yang berasal dari
Wilayah Sumber – Cirebon. Ki Ibnu sabil masih merupakan keturunan Kerajaan
Cirebon dan Ayahnya masih kerabat dekat Sultan Cirebon kala itu.
Ki buyut Sabil adalah sosok orang yang senang
melakukan tirakat dengan mengembara/mencari jati diri, hingga pada suatu saat
Ki Buyut Sabil di utus oleh orang tuanya untuk pergi menelusuri sekitaran
bantaran kali cimanuk yang kala itu banyak sekali dihuni oleh ratusan siluman
yang sering mengganggu manusia yang melewatu daerah itu. Sampailah Ki Buyut
Sabil di tempat yang di peritahkan pada Hari Selasa Wage Bulan Muharram
sebelum ada pemerintahan Prabu Arya Wiralodra, artinya Ki Buyut Sabil salah
satu dari sekian banyak tokoh yang mulai melakukan babad di wilayah indramayu.
Sesampainya di wilayah yang di tuju mulailah Ki Buyut
Sabil untuk Bebera (membereskan) tempat yang banyak di huni oleh para siluman.
Dengan bermodalkan ilmu kanuragan dan keyakinan Ki Buyut Sabil pun berhasil menumpas
siluman-siluman tersebut dan kemudian membangun perdukuhan di wilayah itu.
Berbekal keuletan dan kegigihan Ki Buyut Sabil menjadikan
pedukuhan itu semakin ramai dan makmur. Banyak orang yang ingin belajar kepada Ki
Buyut Sabil, namun beliau lebih banyak merendah dan lebih bersifat ingin
berbaur dengan masyarakat lain.
Ki Buyut Sabil adalah sosok pemimpin sekaligus ulama
yang menjadi panutan dan suri tauladan bagi masyarakat kala itu, dengan
sikapnya yang ramah, lemah lembut, tawaddu serta dermawan Ki Buyut Sabil pun
rela menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang keturunan bangsawan, ia lebih
senang mengabdikan dirinya untuk masyarakat, berbaur untuk membangun sebuah
pedukuhan yang makmur, aman dan damai. Ki Buyut Sabil sering melakukan tirakat
dan berserah diri pada Allah SWT karena hal tersebut merupakan kegemaran nya
sedari dulu.
Seiring berjalannya waktu pedukuhan yang dipimpiin
oleh Ki Buyut Sabil kedatangan seorang pengembara yang ingin belajar bersama
beliau dialah Ki Guna atau Buyut Guna.
2. Ki Buyut Guna
Sama halnya seperti Ki Buyut Sabil, masyarakat tidak
banyak yang tahu tentang siapa beliau Ki Buyut Guna, hampir semua masyarakat
mengetahui cerita bahwa ki buyut guna adalah seorang yang berguna, namun itu
masih belum cukup untuk dijadikan sebagai sumber cerita yang relevan.
Namun dari hasil olah olah spiritual yang dilakukan
seorang praktisi kebatinan, konon ki Buyut Guna merupakan salah satu tokoh yang
berasal dari timur tengah diperkirakan beliau datang ke daerah pedukuhuhan yang
sekarang menjadi Desa Ujungpendok Jaya, 3 tahun setelah Ki Buyut sabil
membangun daerah tersebut pada hari selasa legi di bulan muharam. Untuk tahunnya
belum diketahui pasti.
Ki buyut guna menjadi murid sekaligus sebagai
pengajar di pedukuhan tersebut. Ki Buyut Guna Mempunyai nama Asli Ki Idrus
Muhammad Bin Ahmad. Belau datang karena di utus orang tuanya di negri sebrang untuk
mengembara hingga samapailah di padukuhan tersebut dan menjadi murid dari Ki
Buyut Sabil.
3. Nyi Buyut Santana Ayu
Masih menurut hasil olah spriritual seorang
praktisi. Nyi Buyut Sentana Ayu mempunyai nama asli yakni Nyai Mas Sekar Ayu
Kuningan, yang berasal dari daerah kuningan.
Nyi Buyut Sentana Ayu di temukan oleh Ki Buyut Sabil
terapung di kali cimanuk yang kemudian diasuh dan dibesarkan oleh Ki Buyut
Sabil. Nyi Buyut Sentana Ayu di hanyutkan di kali cimanuk karena pada saat itu
daerah kuningan sedang mengalmi peperangan, dan demi menyelamatkan trah
keturunan kerajaan beliau di hanyutkan di kali cimanuk. Ketika ki buyut sabil
menemukan nya terdapat sebuah tulisan yang berada di dalam keranjang bayi, dan
tulisan tersebut merupakan sebuah pesan, tulisan itu berbunyi “Ketika bayi ini
dewasa sudi kiranya untuk di antarkan ke daerah kuningan”.
Setelah Nyi Buyut Sentana Ayu tumbuh dewasa pesan
tersebut di laksanakan oleh Ki Buyut Sabil untuk mengantarkanya ke daerah
kuningan, namun Nyi Buyut Sentana Ayu lebih kerasan tinggal bersama orang tua
asuhnya yang sedari kecil membimbing dan mengasuhnya hingga dewasa, oleh
karenanya Nyi Buyut Sentana Ayu memutuskan untuk tinggal bersama orang tua
asuhnya tersebut.
Nyi Buyut Sentana Ayu adalah merupakan sosok
perempuan yang cerdas dan patuh terhadap orang tua. Disamping sebagai murid
dari Ki Buyut Guna, Nyi Buyut Sentana Ayu juga ikut membantu mengembangkan
pedukuhan yang telah dibangun oleh Ki Buyut Sabil. Ia membuka lahan baru untuk
mendirikan sebuah tempat belajar mengaji di sekitar pedukuhan, karena pada saat
itu banyak sekali santri yang belajar pada Ki Buyut Guna. Dibukalah sebuah
lahan baru yang sekarang bernama Senteri yang berada di blok Bonjot.
C. Masa Modern
Sebelum menjadi sebuah desa,
Desa Ujungpendok Jaya saat itu adalah sebuah dusun dari Desa Leuwigede, yakni
dusun Ujungpendok. Pada saat itu tanahnya sempit dan penduduknya sedikit jadi
tidak memenuhi syarat untuk menjadi sebuah desa sendiri, kala itu dusun
Ujungpendok Jaya di kepalai oleh seorang Bekel (Kepala Dusun) yang bernama
Bekel Dirya.Pada tahun 1981 Desa Leuwigede melakukan pesta demokrasi pemilihan
kepala desa (Pilwu) dan yang terpilih sebagai Kuwu saat itu adalah H. Mohammad
Rasban yang berasal dari Dusun Ujung Pendok.
H. Mohammad Rasban kemudian mengajukan permohonan
pemekaran wilayah kepada Camat Widasari yang pada saat itu dijabat oleh Bapak
Camat H. Dasuki untuk menjadikan Dusun Ujung Pendok menjadi sebuah desa, dan
Camat H. Dasuki menyetujui permohonan tersebut dengan syarat Dusun Ujung Pendok
harus membangun Balai Desa / Kantor Desa sendiri serta membangun sarana
pendukung kemajuan desa seperti sarana keagamaan, pendidikan dan lainnya.
H. Mohammad Rasban kemudian menyetujui persyaratan
tersebut dan langsung membangun Kantor Desa dan Sekolah Dasar Negri yang hingga
sekarang masih kokoh berdiri. Kemudian berdirilah sebuah desa yang sekarang dikenal
menjadi Desa Ujungpendok Jaya.
Ketika menjadi sebuah desa maka terjadi pula
pemilihan kepala desa yang baru, dan H. Mohammad Rasban kembali terpilih
menjadi kepala desa saat itu dari mulai tahun 1982 sampai dengan tahun 1989.
Jabatan kepala desa kemudian dilanjutkan oleh generasi
berikutnya, berikut Nama-nama Kepala dari awal berdirinya desa hingga
sekarang :
1. Kuwu H. Mohammad Rasban 7 Tahun
memimpin mulai dari tahun 1982 – 1989 2.Kuwu Sarmin 7 Tahun memimpin,
mulai dari tahun 1989 – 1995 3.Pj. Suharto 2 Tahun memimpin,
mulai dari tahun 1995 – 1997 4.Kuwu Kasdi 11 Tahun memimpin,
mulai dari tahun 1997 – 2008 5. Kuwu H. Sutisna 6 Tahun memimpin,
mulai dari tahun 2008 – 2014 6. Kuwu Kasdi 5 Tahun memimpin,
mulai dari tahun 2015 – 2020 7. Pj. Sayuin 1 Tahun memimpin,
mulai dari tahun 2020 – 2021 8. Kuwu H. Casnoto 11
bulan memimpin, mulai dari Agustus 2021 – Juni 2022 9.Kuwu Hj. Waelinah memimpin tahun 2022 – Sekarang.
D. Keadaan Geografis
Secara geografis Desa Ujungpendok Jaya adalah
sebuah desa yang terletak di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu yang
berjarak 25 kilometer dari pusat Ibu Kota Kabupaten Indramayu, dengan titik
koordinat -6,4453 / 108,2899 LS yang memiliki luas wilayah 262,8750 Hektar,
yang sebgaian besar terdiri dari areal persawahan dengan luas mencapai 167,1450
Hektar.
Desa Ujungpendok Jaya yang terbagi dalam 3 Rukun
Warga (RW) dan 12 Rukun Tangga (RT) merupakan
daerah dataran rendah yang rawan akan bencana banjir, dengan ketingian kisaran
10 sampai dengan 15 meter dari permukaan laut (dpl) dengan suhu udara mencapai
270C – 320C, sedangkan untuk batas wilayah Desa Ujungpendok Jaya yakni:
Sebelah Utara Desa Leuwigede Kecamatan Widasari
Sebelah Selatan Desa Ujung Jaya Kecamatan Widasari
Sebelah Barat Desa Pawidean Kecamatan Jatibarang
Sebelah Timur Desa Taman Sari Kecamatan Lelea
Luas lahan yang dimiliki Desa Ujungpendok Jaya
tebagi menjadi menjadi dua macam yakni lahan produktif dan lahan tidak
produktif. Lahan produktif meliputi areal persawahan dan perkebunan, sementara
dari lahan tidak produktif meliputi pekarangan dan pemukiman.
No.Keterangan Jumlah (Ha) 1.Sawah167,1450 2.Ladang24,4580 3.Pemukiman60,4380 4.Tanah Milik Desa9,7720 5.Fasilitas Umum1,0620 Jumlah262,8750
Berdasarkan data di atas luas peruntukan lahan yang
terdapat di DesaUjungpendok Jaya sebagian besar adalah untuk sawah sebesar 167,1450
Hektar.
E.Keadaan Demografi
Keadaan Demografi dapat ditinjau dari jumlah
penduduk yang terdapat di Desa Ujungpendok Jaya Kecamatan Widasari Kabupaten
Indramayu Tahun 2023, jumlah penduduk sebanyak 2.337 Jiwa, yang terdiri atas 1.171
laki-laki dan 1.166 perempuan.
F.Agama dan Tempat Ibadah
Secara keseluruhan masyarakat Desa Ujungpendok Jaya Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu memeluk agama Islam, hal ini terlihat banyaknya tempat ibadah yang terbagi di tiap-tiap Rukun Tangga (RT) yang terdiri 2 buah Masjid dan 12 Musholla.
G.Keadaan Sosial, Ekonomi dan Budaya
1. Sosial Ekonomi
Secara sosial dan ekonomi masyarakat yang ada di
Desa Ujungpendok Jaya Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu cukup bervariasi
dengan latar belakang ekonomi yang berbeda-beda pula. Dengan mengandalkan
system perekonomian yang diperoleh dari hasil pertanian. Pertanian merupakan
sumber mata pencaharian yang paling dominan. Hal itu ditunjang dengan wilayah
yang sebagian besar terdiri dari lahan persawahan dan perkebunan.
2. Budaya
Danyak tradisi dan budaya yang dilaksanakan di Desa
Ujungpendok jaya Kecamatan Widasari Kab. Indramayu, diantaranya melakukan adat
budaya unjungan Ki Buyut (Sesepuh Desa), Sedekah Bumi (Syukuran sebelum Masa
tanam), Mapag Sri (syukuran setelah Panen). Hal demikian dilakukan sebagai
ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
H. Sarana dan Fasilitas Kesehatan
Sarana dan fasilitas kesehatan yang ada di Desa
Ujungpendok Jaya Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu berjumlah 12 (dua
belas) unit, meliputi:
Tujuh buah tempat
praktek Bidan yang melayani kebutuhan rawat inap dan rawat jalan serta
persalinan bagi ibu hamil yang hendak melahirkan.
Empat buah Sarana
penunjang pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat yakniposyandu yang
terbagi di beberapa lokasi Rukun Tangga (RT).
I. Sarana Pendidikan
Sarana lain yang ada di Desa Ujungpendok Jaya
Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu untuk kepentingan umumseperti Sekolah
Dasar (SD) dan Madrasah Diniyah yang berlokasi di lingkungan kantor Desa
Ujungpendok Jaya.
J. Panutup
Dari jejak langkah para leluhur yang
menapaki tanah ini dengan harapan dan doa, hingga geliat pembangunan yang kini
menghidupkan setiap sudut desa Ujungpendok Jaya bukan sekadar tempat tinggal,
melainkan ruang hidup yang menyimpan warisan nilai, perjuangan, dan
kebersamaan.
Sejarahnya bukan hanya deretan
peristiwa, melainkan cermin dari semangat gotong royong, keteguhan iman, dan
kecintaan pada tanah kelahiran. Di balik setiap nama jalan, setiap bangunan
tua, dan setiap tradisi yang masih dijaga, tersimpan kisah tentang siapa kita
dan ke mana kita ingin melangkah.
Kini, saat generasi baru mulai menata
masa depan, kisah Ujungpendok Jaya menjadi lentera mengajarkan bahwa kemajuan
tak harus meninggalkan akar, dan bahwa desa bukanlah sisa masa lalu, melainkan
fondasi masa depan yang berdaya dan bermartabat.
Semoga kisah ini menjadi pengingat:
bahwa sejarah bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dijadikan pijakan dalam
membangun hari esok yang lebih cerah, lebih adil, dan lebih bermakna. Wa Allahu
A’lam Bissawab.
0 Komentar
Tulis Komentar Anda dengan sopan dan No Link Spam!